HomeContact UsNewsLinks
Halaman Utama
Main Menu
Halaman Utama
Links
Hubungi Kami
Kabar Puskesmas
Profil Dinas Kesehatan
Foto
Buku Tamu
download
Bidang-Bidang
Bid Pemberantasan Penyakit
Bid Kesejahteraan Sosial
Bid PKPL
Bid Tata Usaha
Bid Pelayanan Masyarakat
Login





Kata Sandi hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Pengunjung
mod_vvisit_counterHari ini62
mod_vvisit_counterKemarin61
mod_vvisit_counterMinggu Ini62
mod_vvisit_counterBulan Ini537
mod_vvisit_counterKeseluruhan24618
P3010367.jpg.jpg
Polls
Bagaimana Penanganan Penyakit Menular di Kotabaru
 
Link Puskesmas
Sungai Kupang
Pantai
Serongga
Pudi
Bungkukan
Marabatuan
Tanjung Seloka
Sungai Bali
Lontar
Berangas
Kotabarau
Dirgahayu
Mekarpura
Gunung Batu Besar
Sampanahan
Tg Semelantakan
Kelumpang F
Bakau
Pamukan II
Sungai Durian
Banian
Hampang
Tj Lalak
Sengayam
WASPADAI BERBAGAI JENIS PENYAKIT PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Administrator   
Friday, 28 November 2008



PENDAHULUAN
Penyakit adalah setiap gangguan terhadap kesehatan. Ada dua hal yang perlu dipahami untuk mengetahui sejauh mana penyakit mempengaruhi keadaan sosial, yaitu :
1. Sifat – sifat penyakit yang dihadapi, apakah akut, kronis, ganas atau jinak.
2. Perjalanan penyakit yangh lazim disebut dengan natural history of disease dan dibedakan atas masa sebelum sakit, masa inkubasi, masa penyakit dini, masa penyakit lanjut serta masa akhir penyakit
Kedua hal itu dapat memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap keadaan sosial. Dengan demikian dapat dibayangkan betapa banyaknya akibat sosial (social impact) yang dapat ditimbulkan bervariasinya jenis penyakit. Berikut akan dibahas beberapa penyakit menular:

Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi atau radang yang cukup serius pada paru-paru. Dari jenis-jenis pneumonia itu ada yang spesifik / khusus yang disebut dengan tuberkulosis atau TBC atau TB, yang disebabkan oleh bakteri tuberkulosa. Jenis yang lain, adalah SARS yang sampai hari ini adalah pneumonia akibat virus. Berbeda dengan penyakit tuberkulosa yang sudah diketahui penyebab dan obat pastinya, tidak untuk SARS, yang sampai kini masih dicari virus pasti penyebabnya, dan bagaimana cara memusnahkan atau menghindarinya (vaksin).
Mungkin hal itu bisa disamakan seperti awal-awal ditemukannya penyakit tuberkulosa, atau penyakit-penyakit infeksi lainnya.

Penularan dan Infeksi
Pneumonia dapat terjadi akibat menghirup bibit penyakit di udara, atau kuman di tenggorokan terisap masuk ke paru-paru. Penyebaran bisa juga melalui darah dari luka di tempat lain, misalnya di kulit. Jika melalui saluran napas, agen (bibit penyakit) yang masuk akan dilawan oleh pelbagai sistem pertahanan tubuh manusia. Misalnya, dengan batuk-batuk, atau perlawanan oleh sel-sel pada lapisan lendir tenggorokan, hingga gerakan rambut-rambut halus (silia) untuk mengeluarkan mukus (lendir) tersebut keluar. Tentu itu semua tergantung besar kecilnya ukuran sang penyebab tersebut.
Jangan menganggap kita berada di kotak steril tanpa bibit penyakit. Udara sekitar kita penuh dengan bibit-bibit penyakit. Seseorang tidak jatuh sakit karena ada keseimbangan antara sistem pertahanan tubuh kita, serta jumlah maupun keganasan bibit penyakit. Yang dimaksud dengan sistem pertahanan tubuh, misalnya struktur kulit, proses batuk, hingga sel-sel pembunuh yang berada dalam darah maupun cairan limfe kita (sistem antibodi). Untuk itu penting selalu menjaga kondisi tubuh agar tetap fit menghadapi serangan penyakit.
Pada orang-orang yang terganggu pertahanan tubuhnya, misalnya kesadaran menurun, usia lanjut, menderita penyakit pernapasan kronik / PPOM, infeksi virus, diabetes mellitus, dan penyakit kronis lainnya, termasuk juga pada penderita penyakit payah jantung atau kanker, mereka itu menjadi mudah sakit. Selain itu, jumlah bakteri atau virus serta keganasan virus/bakteri tersebut yang masuk ke tubuh calon penderita bisa mempengaruhi, apakah seseorang menjadi sakit atau tidak.

Jenis-jenis Pneumonia
Secara umum terdapat perbedaan baik gejala maupun perjalanan penyakit sampai pengobatan dari berbagai jenis pneumonia.
A. Pneumonia Bakterial
Pneumonia bakterial sering diistilahkan dengan pneumonia akibat kuman. Pneumonia jenis itu bisa menyerang siapa saja, dari bayi hingga mereka yang telah lanjut usia. Para peminum alkohol, pasien yang terkebelakang mental, pasien pascaoperasi, orang yang menderita penyakit pernapasan lain atau infeksi virus adalah yang mempunyai sistem kekebalan tubuh rendah dan menjadi sangat rentan terhadap penyakit itu.
Sebenarnya bakteri pneumonia itu ada dan hidup normal pada tenggorokan yang sehat. Pada saat pertahanan tubuh menurun, misalnya karena penyakit, usia lanjut, dan malnutrisi, bakteri pneumonia akan dengan cepat berkembang biak dan merusak paru-paru.
Jika terjadi infeksi, sebagian jaringan dari lobus paru-paru, atau pun seluruh lobus, bahkan sebagian besar dari lima lobus paru-paru (tiga di paru-paru kanan, dan dua di paru-paru kiri) menjadi terisi cairan. Dari jaringan paru-paru, infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Bakteri Pneumokokus adalah kuman yang paling umum sebagai penyebab pneumonia bakteri tersebut.
Gejalanya
Biasanya pneumonia bakteri itu didahului dengan infeksi saluran napas yang ringan satu minggu sebelumnya. Misalnya, karena infeksi virus (flu). Infeksi virus pada saluran pernapasan dapat mengakibatkan pneumonia disebabkan mukus (cairan/lendir) yang mengandung pneumokokus dapat terisap masuk ke dalam paru-paru.
Pada orang normal tubuh akan mengadakan perlawanan, dan biasanya menang, tetapi tidak pada orang-orang tua atau mereka yang daya tahan tubuhnya menurun. Karena mekanisme itu, biasanya infeksi paru-paru (pneumonia) jenis itu didahului dengan infeksi saluran napas bagian atas satu minggu sebelumnya, kemudian gejala timbul mendadak seperti panas yang tinggi (mencapai 40 derajat Celsius) disertai menggigil dengan gemeretak gigi bahkan bisa sampai muntah. Terdapat juga nyeri pleura (lapisan yang membungkus jaringan paru-paru) yang hebat dan diperberat dengan batuk dan pernapasan yang terganggu.
Jenis batuk biasanya produktif mengeluarkan lendir yang berwarna hijau atau merah tua. Penderita akan mengeluarkan keringat banyak, nadi dan pernapasan meningkat. Karena kekurangan oksigen, bibir dan kuku membiru. Kesadaran pasien menjadi menurun.
B. Pneumonia Akibat Virus
Penyebab utama pneumonia virus adalah virus influenza (bedakan dengan bakteri hemofilus influenza yang bukan penyebab penyakit influenza, tetapi bisa menyebabkan pneumonia juga). Uraian mengenai virus dan penyakit influenza lebih terperinci akan disajikan minggu depan.
Kekerapan penyakit itu pada setiap golongan usia berbeda, bergantung pada virus penyebabnya. Respiratory syncytial virus (RSV) terbanyak pada anak balita. Sebaliknya virus varicella yang menyerang paru-paru hanya bisa diderita oleh orang dewasa. Virus influenza tipe A sendiri bisa menyerang kedua kelompok usia, namun orang dewasa lebih sering terserang virus tersebut.
Konsentrasi penduduk, terutama mereka yang tinggal di asrama lebih memungkinkan penyebaran pneumonia secara cepat, apalagi kalau hubungan dengan dunia luar terbatas seperti pada tempat latihan angkatan bersenjata.
Infeksi oleh virus influenza dapat menjadi berat dan kadang-kadang berakibat fatal. Penyakit itu sering ditemukan pada penderita penyakit jantung, paru-paru, atau mereka yang sedang hamil.
Gejala
Gejala awal dari pneumonia akibat virus sama seperti gejala influenza, yaitu demam, batuk kering, sakit kepala, nyeri otot, dan kelemahan. Dalam 12 hingga 36 jam penderita menjadi sesak, batuk lebih parah, dan berlendir sedikit. Terdapat panas tinggi disertai membirunya bibir.
Tipe pneumonia itu bisa ditumpangi dengan infeksi pneumonia karena bakteri. Hal itu yang disebut dengan superinfeksi bakterial. Salah satu tanda terjadi superinfeksi bakterial adalah keluarnya lendir yang kental dan berwarna hijau atau merah tua.
Pengobatan
Penderita pneumonia yang berusia muda bisa segera sembuh. Hal-hal yang mempermudah penyembuhan adalah sistem pertahanan tubuh relatif baik, infeksinya belum menyebar, dan tidak menderita penyakit lain terutama penyakit kronis.
Pada penderita yang muda dan "sehat", pengobatan awal dengan antibiotik bisa mempercepat pemulihan. Untuk pneumonia karena virus, meskipun saat ini sudah tersedia preparat (obat) antivirus, belum luas digunakan berhubung harganya yang relatif mahal. Untuk itu, pengobatan pada pneumonia karena virus biasanya hanya bersifat supportive semata (tidak membunuh virusnya). Diharapkan kekebalan tubuh bisa terbentuk untuk menangkal virusnya.
Mengenai apakah memerlukan perawatan rumah sakit atau cukup berobat jalan saja, bergantung pada kebijaksanaan dokter dengan memperhatikan situasi dan kondisi penderita dan lingkungannya.
Masalah menjadi pelik jika penyakit itu menyerang orang tua atau mereka yang memiliki penyakit kronis. Faktor sistem pertahanan tubuh yang menurun membuat sukar untuk cepat sembuh. Belum lagi metabolisme tubuh yang sudah berbeda membuat pengaturan dosis obat tidak seaman pada orang muda atau sehat.
Penurunan suhu tubuh (demam) bukan berarti boleh menghentikan pengobatan antibiotika. Antibiotika harus dihentikan sesuai petunjuk dokter, atau pneumonia bisa terjadi lagi (kambuh). Kondisi kekambuhan lebih parah dari sakit pertama dan memerlukan penanganan yang lebih serius lagi.
Selain antibiotik, pasien juga diberikan pengobatan supportive, seperti diet yang mendukung penyembuhan dan pemulihan termasuk pembentukan sistem kekebalan tubuh serta oksigen untuk meningkatkan kadar oksigen dalam darah. Pada beberapa pasien, obat untuk mengurangi nyeri dada dan mengurangi batuk keras juga diperlukan.
Pada penderita kencing manis, diet pun tidak bisa sembarangan. Begitu juga pada penderita payah ginjal ataupun liver. Orang muda yang relatif sehat bisa sembuh dari pneumonia dalam seminggu. Untuk mereka yang separo baya, diperlukan beberapa minggu untuk memulihkan kekuatan, tenaga, dan perasaan sehat1.

Gizi Buruk

Provinsi Kalimantan Selatan sampai saat ini belum bebas dari kasus gizi buruk pada balita. Yang memprihatinkan, beberapa balita penderita kekurangan gizi itu terlambat diselamatkan sehingga meninggal dunia. selama
Pada beberapa waktu yang lalu ada kasus seorang balita di perkampungan nelayan Tanjung Playar, Pulau Laut Barat, Kotabaru, ditemukan menderita gizi buruk. Masitah (6 bulan), anak dari Gadong yang berprofesi sebagai buruh, pada pertengahan Februari 2008 lalu terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kotabaru untuk mendapatkan perawatan, karena berat badannya di bawah normal, yakni 3,1 kg dengan disertai penyakit diare.2 Kemudian Cinta (14 bulan) anak dari Antoro yang berasal dari daerah Pantai Baru juga menderita gizi buruk serta mengalami komplikasi jantung dengan berat badan saat ditemukan hanya berbobot 4,6 kg. Serta anak dari pasangan Subagyo dan St. Khalifah yang berasal dari daerah Gunung Sari, yaitu Naila (7 bulan) dengan bobot 4,6 kg dengan penyakit yang dideritanya yaitu jantung.3
MALARIA
Pada periode Minggu ke-22 s/d ke-25 tahun 2008 (tanggal 26 Mei-18 Juni 2008) lalu telah terjadi satu KLB (kejadian luar biasa) Malaria di Desa Tanjung Lalak Utara dan Selatan wilayah kerja Puskesmas Tanjung Lalak Kecamatan P.L.Kepulauan. Angka serangan (attack rate) Desa TL.Utara lebih besar dibandingkan Desa TL. Selatan, yaitu 14% : 3%.
Tim penyelidik Epidemiologi Kabupaten bersama Petugas Puskesmas Tanjung Lalak telah melakukan investigasi dan upaya penanggulangan dibantu Petugas Dinkes Propinsi Kasel serta Balai Teknologi Kesehatan Lingkungan dan P2M Banjarbaru.
Biaya operasional kegiatan bersumber dari APBD berdasarkan DPA SKPD Dinkes Kotabaru Tahun 2008.4

Gejala
Malaria diawali dengan demam, menggigil, berkeringat disertai dengan sakit kepala, mual dan muntah. Namun apabila gejala tersebut sudah berat atau komplikasi akan terlihat gejala seperti gangguan kesadaran ebih dari 30 menit, kejang, panas tinggi diikuti gangguan kesadaran (pingsan), mata dan tubuh kuning, pendarahan dihidung, gusi atau saluran pencernaan, jumah kencing kurang (oliguri), warna urine seperti teh tua, kelemahan umum (tidak bisa duduk/berdiri) dan nafas sesak.
Faktor resiko penularan malaria yang ditemukan di lokasi KLB (Kejadian Luar Biasa) yaitu terdapatnya tempat perindukan nyamuk malaria berupa kolam musiman dan positif jentik serta ditangkap nyamuk anopheles dewasa serta sudah mulai hilang budaya memakai kelambu saat tidur dan BAB (Buang Air Besar) malam hari atau menjelang pagi di pantai. Selain itu ketika sumber penular setelah tiba di kampung tidak segera mencari pengobatan ke sarana kesehatan.
Pengobatan
Untuk pengobatan Malaria, beberapa jenis obat yang dikenal secara umum adalah5 :
1. Obat Standar : Klorokuin dan Primakuin
2. Obat Alternatif : Kina dan SP (Sulfa doksin + Pirimetamin)
Dan obat untuk penderita Malaria berat adalah Kina HCL 25% injeksi (1 ampul 2 cc) dan obat standar dan klorokuin injeksi (1 ampul 2cc) sebagai obat alternatif.
Sedangkan untuk kasus KLB di desa Tanjung Lalak Kecamatan P.L.Kepulauan, obat yang digunakan adalah Arsumoon (Artesunat + Amodiaquin).4
Penanggulangan
Kegiatan penanggulangan yang telah dilaksanakan antara lain adalah 4 :
1. Penjaringan melalui pemeriksaan persediaan darah sebesar 460 sdm (sediaan darah malaria).
2. Pengobatan radika dengan regimen ACT kepada 257 kasus positif malaria.
3. Pengobatan klinis kepada kasus-kasus klinis yang terjaring.
4. Pembagian obat malaria (chloroquin) dosis pencegahan kepada warga yang berencana bekerja di daerah Semisir (hutan) dengan dosis 2 tablet sebelum masuk, dilokasi 2 tablet setiap minggunya dan 2 tablet setelah keluar selama 4 minggu berturut-turut.
5. Pengendalian vector malaria (alat dan bahan sumber dari Pusat) antara lain pembagian kelambu berinsektisida kepada penduduk berisiko tinggi (256 buah), penyemprotan seluruh rumah penduduk di 2 (dua) desa (615 buah) yang berlangsung 10 hari sejak tanggal 18 Juni 2008, serta Larvasidasi tempat perindukan nyamuk.
Saat ini kegiatan pemantauan kasus baru dan pemantauan pengobatan masih tetap dilaksanakan oleh Petugas Posko Penanggulangan di Puskesmas TJ.Lalak, juga pemantauan pemakaian kelambu dan penyemprotan rumah.

FILARIASIS

Penyakit kaki gajah atau yang sering disebut filariasis / elefantiasis hingga saat ini masih menjadi endemi di ratusan kabupaten di Indonesia . Gejala ini memprihatinkan dan bagi masyarakat awam kesadaran akan terjangkit penyakit ini dapat membantu penanggulangannya.
Waspadalah bila tiba-tiba kaki Anda membesar. Mungkin saja virus penyebab penyakit filariasis atau dikenal dengan kaki gajah, mulai menghinggap.  Sebenarnya penyakit ini sendiri berasal dari cacing yang menempel pada nyamuk. Seperti pada konsep umum kesehatan masyarakat, sistem penularan penyakit ini juga melalui individu agen di sekitarnya. Biasanya cacing akan menempel pada nyamuk, dan masuk ke aliran darah dalam tubuh melalui gigitan nyamuk. Akibat gigitan ini, virus cacing akan menetap di dalam darah, berkembang biak dan menggejala.

Gejala
Gejalanya sebenarnya dapat dilihat dengan mudah, Saat tubuh terlihat demam berulang-ulang setiap satu hingga dua bulan, selama tiga hingga lima hari. Lalu kemudian terlihat gejala pembengkakan kelenjar pada paha dan ketiak. Kalau diraba pembengkakan kelanjar ini akan terasa panas. Gejala ini kemudian diikuti dengan pembengkakan serupa pada daerah-daerah seperti tungkai kaki, lengan, buah dada, bahkan juga pada kantung buah zakar, hingga mencapai ukuran yang bisa bikin kita geleng kepala. Itulah mengapa penyakit ini dinamakan kaki gajah. Karena penyakit ini umumnya menyerang kaki sang penderita, hingga berukuran teramat besar, bila dibandingkan ukuran normal.
Pihak jajaran Kesehatan Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan menyatakan penyakit kaki gajah (filariasis) sudah menjadi ancaman yang menakutkan warga kabupaten setempat sebab dikatagorikan endemis.
Selama lima tahun terakhir, Dinas Kesehatan & Kessos Kab. Kotabaru melakukan pengobatan massal di empat kecamatan, Kelumpang Utara, Kelumpang Selatan, Tanjung Seloka dan Pulau Laut Timur, sebagai daerah yang paling banyak ditemukan penderita filaria. Sampai saat ini kasus filariasis di seluruh Kabupaten Kotabaru sebanyak 36 kasus, di Kota Kotabaru ibukota kabupaten terdapat 4 kaus, Pudi 11 kasus, Pamukan II 1 kasus, Pantai 1 kasus, dan Tanjung Seloka 7 kasus. Kemudian di Lontar 3 kasus, Tanjung Batu 1 kasus, Sei Durian 2 kasus, Berangas 2 kasus, Marabatuan 1 kasus, Tanjung Smalantakan 1 kasus, Bakau 1 kasus dan Gunung Batu Besar 1 kasus.
Namun di Tahun 2008, pengobatan massal filariasis sudah mencakup semua Kecamatan yang ada di Kabupaten Kotabaru.
Pengobatan
Secara medis, pengobatan Filariasis menggunakan Garam DEC (dengan jumlah tablet yang dikonsumsi berdasarkan umur penderita) dan Albendasol. Cara pengobatan ini dilakukan setahun sekali selama kurun waktu 5 tahun berturut-turut.
Belakangan ini diketahui bahwa, daun jati Belanda juga dapat digunakan sebagai obat elephantiasis atau penyakit kaki gajah. Bagian tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit kaki gajah adalah bagian kulit kayu sebelah dalam. Namun, ada sumber lain yang menyebutkan bahwa daunnya pun apalagi jika dicampur dengan ramuan lain maka dapat pula dimanfaatkan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Untuk mengobati kaki gajah, daun yang akan digunakan sebagai ramuan dipilih daun yang segar dan berwarna hijau tua. Daun diambil

secukupnya, dikeringkan dengan cara diangin – anginkan, tetapi harus dihindarkan dari cahaya matahari langsung karena dapat mengubah warna daun menjadi cokelat kehitaman. Pengeringan yang tidak benar akan mengurangi khasiat zat aktif yang dikandungnya. Kemudian seduh dengan air panas, disaring, dan air saringannya diminum sehari 2 kali.6

Pustaka :
1. www.info-sehat.com
2. www.banjarmasinpost.co.id/kamis,1Mei2008
3. Bidang Yankesmas Dinas Kesehatan & Kessos Kab. Kotabaru
4. Bidang P3M Dinas Kesehatan & Kessos Kab. Kotabaru
5.  http://www/tempointeraktif.com
6. ANEKAPANTASIA.cybermediacips.com// anekapantawordpress.com
 






 
< Sebelumnya   Berikutnya >
© 2010 Situs Dinkes Kotabaru
designed and created by angin lembah